Sikap Hidup

Pagi ini, saya bangun lebih cepat daripada biasanya. Beda 1 jam saja sih dari biasanya tapi itu sangat berdampak dalam diri saya hari ini. Bagaimana tidak, yang harusnya saya tidur 7 jam hari ini menjadi 6 jam. °ĉќ…°ĉќ…°ĉќ… Belum lagi, sikap buru-buru saya hari ini, membuat saya melupakan kegiatan renungan pagi yang sudah menjadi kebiasaan saya setiap paginya.

Alhasil, jam 6 pun saya tiba di kantor dan kantor masih dipenuhi oleh petugas masak (aka Koki).
Di tengah rasa kantuk saya, sambil makan kue-kue kecil yang saya beli dari Ibu-ibu yang selalu memaksa saya untuk membeli kue buatannya, akhirnya, saya memutuskan untuk duduk menyendiri di pojok loker sambil membuka aplikasi Renungan Alkitab pada smartphone saya. Saya butuh suasana yang tenang agar saya bisa berdoa, tanpa ada orang yang mengganggu saya. Dan untuk mendapatkan suasana seperti itu, lagi-lagi saya memasangkan headset smartphone pada kedua telinga saya sambil mendengarkan MP3.

Pagi ini, saya berhasil membaca 2 hal dalam Alkitab, yaitu hal mengenai orang Yahudi dan tentang kasih.

Dari kedua hal tersebut, saya bisa menarik kesimpulan yang bisa saya jadikan pedoman dalam kehidupan saya mulai hari ini.

Roma 2:21-23:
21. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: ” Jangan mencuri, mengapa engkau sendiri mencuri
22 Engkau yang berkata: ” Jangan berzinah, mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala
23 Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu.

Saya jadi inget akan sikap seseorang yang saya perhatikan aktif dalam organisasi gereja, rajin beribadah, selalu menasihati teman-temannya untuk hidup benar tapi dia sendiri (menurut kacamata manusiawi saya) sikapnya sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang baik dan cinta Tuhan.
Tiap ada kegiatan di sebuah organisasi gereja, dan ada masalah sedikit, emosinya langsung ke luar. Saya tidak suka akan seseorang yang munafik seperti itu. Pandai menasihati, tapi dirinya sendiri tidak pandai menasihati hatinya sendiri. Emosi menjadi alat ampuh yang dipakai olehnya untuk menyelesaikan masalah dalam organisasi gereja tersebut.
Semoga saja, ayat di atas, bisa menuntun saya untuk lebih baik dalam bersikap dan sikap saya tidak menjadi batu sandungan bagi siapapun. :)

Hal kedua yang saya baca pada pagi hari ini adalah:
“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16 )

Saat kita tinggal di dalam kasih Tuhan, maka kasih-Nya akan memampukan kita untuk mengasihi orang lain seperti yang Dia kehendaki.

Tuhan Yesus, ajarlah saya untuk mengasihi dan memberi dari kekurangan saya. Dengan begitu, saya merasa hidup saya lebih berharga, berenergi, berpengharapan, dan bersukacita di dalam kasih-Mu.

Jakarta, 13 Desember 2010
Tepat 1 tahun 7 bulan dia menyatakan cintanya kepada saya.
Rasa kasih saya juga akan saya dedikasikan kepada David Sanggam Christopher Lumbantobing. :)
Mampukan saya ya Tuhan untuk terus mengasihinya sama seperti ia mengasihi saya. :)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.