Tempat Duduk

Siapa sangka tempat yang kamu duduki sekarang akan menjadi tempat duduk orang lain? Dan siapa sangka tempat yang orang lain duduki sekarang akan menjadi tempat dudukmu di kemudian hari?

Saya merupakan tipe pemerhati orang-orang di sekitar saya. Kelihatannya saja saya tidak peduli, padahal, diam-diam saya suka memperhatikan tingkah laku mereka, gerak-gerik mereka, dan sikap mereka. Mungkin kalau saya disuruh memerankan acting salah satu dari mereka, saya lah yang terbaik memerankannya. :D Dan saya pun senang sekali memperhatikan tempat duduk mereka.

Suatu saat saya memasuki sebuah ruangan kerja yang letaknya berdampingan dengan tempat kerja saya. Namun kali ini saya tidak begitu tertarik memperhatikan tempat duduknya. Mungkin apa karena saya terlalu menyepelekan tempat duduk itu. Suatu saat itu menjadi kebiasaan setiap hari. Yup, setiap hari saya memasuki ruangan itu tapi sama sekali saya mengacuhkan keberadaan tempat duduk itu. Tidak bisa dipungkiri, terkadang, saya melirik sebentar ke arah tempat duduk itu. Namun, hanya sepintas tanpa ada rasa tertarik.

Saya sungguh-sungguh menikmati tempat duduk saya ketika itu. Empuk, nyaman, enak, dan saya rasa, saya beruntung di usia saya sekarang ini bisa mendapatkan tempat duduk seperti itu. Setiap pagi, saya merapikan bantal yang sengaja saya taruh di belakang tempat duduk saya itu dan menaruh sedikit cemilan untuk menahan rasa lapar saya hingga jam 2 siang.

Namun, keadaan tiba-tiba berubah. Angin badai itu tiba-tiba saja datang dan menghancurkan tempat duduk yang sudah hampir 1 tahun aku duduki itu. Angin badai yang sangat jahat itu, memporak porandakan juga meja kerjaku, dinding-dinding di sekitarku, bahkan ruangan kecil yang paling dalam yang miliki. Angin badai itu juga berhasil membuatku terduduk diam di tempat duduk yang pernah kuabaikan setiap hari itu.

Kejadian itu membuatku sangat kaget dan sakit. Alangkah sangat menyakitkannya apabila sesuatu yang kita sukai direbut oleh sesuatu. Seiring dengan berjalannya waktu, tempat duduk yang pernah aku duduki itu mulai kembali dijahit, dirapikan, dipoles kembali, dan ditata di tempat lain yang lebih bagus. Namun sayang, aku tidak lagi mendapat kesempatan untuk menduduki tempat duduk itu. Aku hanya bisa memandangi bangku kesayanganku itu dipakai oleh lain.

Keadaan berubah total. Untung saja keberuntungan masih mau menyapaku meskipun tempat duduk itu tidak lagi menjadi milikku. Aku juga kembali disadarkan akan keadaan dan waktu.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.