Kenyataan di Dalam Sebuah Cerpen

Siang itu, saya berjalan menyusuri tepi kolam renang. Tapi bukan ke kolam itu tujuan saya melainkan ke WC yang ada di area kolam renang. Rasa jenuh menyelimuti perasaan dalam diri saya saat itu. Sebelum masuk ke WC, saya melirik sebentar ke arah kolam renang. Tampak seseorang sedang asyiknya berenang di bawah selimut teriknya sinar matahari. Sepertinya, orang itu tentu bukan orang Indonesia yang gemar berjemur di bawah teriknya matahari di negara beriklim tropis. Tampak juga seorang Lifeguard mengikuti ke mana saja perenang tadi berenang. Pikirku, “Apakah orang ini tidak bisa berenang sampai-sampai harus diikuti??” :D Unik juga pemandangan siang itu. Dan aku pun tertawa dalam hati kecilku. Ketika sedang menikmati pemandangan yang menurutku sedikit lucu itu, aku pun terkejut melihat angin puyuh kecil yang tiba-tiba menyapa di depanku. Angin puyuh itu menyapaku dengan sapaan “manisnya” dan berlalu begitu saja.

Ada sedikit rasa trauma di dalam diriku apabila melihat angin lewat di depanku. Besar maupun kecil, bagiku sama saja jahatnya. Aku teringat akan angin puyuh kecil yang setiap hari lewat di tempat kerjaku dan semakin hari bertambah besar dan berubah menjadi angin badai besar yang jahat, yang merusak, dan merebut kursi kesayanganku itu. :( Sedih rasanya apabila aku mengingat-ingat kembali kejadian itu. Tapi, biarlah itu berlalu, dibawa angin macam apapun itu, agar ingatanku akan kejadian itu pun cepat berlalu.

Angin puyuh kecil yang menyapaku di dekat tepi kolam, tepat di depan WC kolam renang itu sebenarnya dulu adalah angin yang baik yang pernah aku lihat. Dulu, angin itu merupakan angin segar yang menyegarkan tempat kerjaku ketika aku sedang suntuk duduk di kursi kesayanganku. Tapi, ntah kenapa, sepertinya angin badai itu mengajak angin puyuh kecil itu untuk berkawan dengannya sehingga menjadi angin besar yang jahat yang biasa menghancurkan apa saja.

Aku masuk ke dalam ruangan WC, kucuci tanganku, dan rasanya sangat ingin kucuci pikiranku untuk mengakhiri semua yang pernah aku rasakan semenjak datangnya angin badai itu.

Dan inilah yang disebut “Kenyataan di Dalam Sebuah Cerpen.”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.